Sepanjang tahun 2015, tim Maulidan Games menjadikan development sebagai fokus utama. Sebuah hal yang wajar mengingat mimpi kami untuk menjadi developer yang tercepat dan berkualitas. Namun, inisiatif untuk mengikuti kompetisi akhirnya muncul. Tim sepakat untuk berlaga di salah satu festival bergengsi, bertajuk "COMPFEST 7"


Compfest 7 merupakan ajang tahunan yang diselenggarakan oleh Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia. Rangkaian acara mulai seminar, pelatihan bisnis, pameran IT, dan berbagai macam kompetisi dihadirkan disana. Kami mencoba menjajal keberuntungan untuk berlaga dalam "Indie Game Ignite", sebuah kompetisi yang mewadahi pengembang game indie untuk berkarya dan menunjukkan kemampuannya dalam mengembangkan inovasi di dunia game.

 

Tycoon versus Turn Based Action

Kami membentuk dua subtim untuk ikut serta dalam kompetisi tersebut. Dua orang member tergabung dalam tim pertama yang menamakan tim mereka sebagai “Tesseract”, sedangkan tim kedua yang bernama “Mindstone” beranggotakan 3 orang. Masing – masing tim mengajukan konsep yang berbeda.

 

Game berkonsep tycoon menjadi pilihan tim Tesseract. Memadukan konten lokal dengan kompleksitas jual beli dalam game bergenre tycoon, terciptalah game yang bernama “Nusantara Culinary Tycoon”. Game ini berlatar belakang kisah tentang Cak Jul, seorang mahasiswa fresh graduate yang memiliki minat untuk berwirausaha dibidang kuliner. Kecintaannya pada kekayaan kuliner Nusantara membuatnya merintis bisnis kuliner lokal dan berani bermimpi untuk mengembangkan bisnisnya di seantero Nusantara.

 

 

Dalam game ini, pemain dituntut untuk menyelesaikan target yang terdapat dalam quest di tiap levelnya. Untuk memperoleh laba usaha  yang tinggi, pemain harus memperhatikan berbagai faktor, seperti harga, daya jual barang di tiap tempat, cuaca, dan lain-lain. Ada 5 tempat berbeda yang bisa digunakan membangun stan, yaitu kampus, danau, pasar, pantai, dan bandar udara. Untuk dapat menamatkan game ini, terdapat 80 quest yang harus diselesaikan oleh pemain.

 

Sementara itu, tim Mindstone mengusung konsep turn-based action battle dalam game yang bertajuk “Pandawa : The Heroes of Ngastina”.  Dalam game yang bertema wayang ini, pemain berperan sebagai anggota Pandawa yang harus bertarung dengan musuh-musuh di setiap tempat yang mereka lalui. Setiap anggota Pandawa memiliki jurus dan senjata yang berbeda-beda. Agar dapat memenangkan permainan, pemain harus pandai-pandai menentukan jalur yang paling efektif untuk menyerang musuh.

 

 

Melaju ke Babak Final

Selang waktu berlalu, tibalah babak penentuan finalis. Keberuntungan berpihak pada tim Tesseract. Mereka berhasil melaju ke babak final. Waktu yang tersisa digunakan para anggota tim untuk mengemas konsep presentasi yang menarik di babak final nanti. Berbekal semangat dan doa, tim pergi merantau ke Jakarta selama 2 hari untuk mempresentasikan karya mereka di hadapan juri. Tidak hanya itu, mereka juga mendapat kesempatan untuk berpartisipasi dalam IT expo yang diselenggarakan sehari sebelumnya.

 

Bersama dengan para finalis Indie Game Ignite lainnya, Tim Tesseract berkesempatan mempromosikan game mereka di booth pameran, Sabtu (3/10). Atmosfer berbeda mereka rasakan begitu tiba di lokasi. Acara pameran terkonsep dengan begitu rapih dan teratur. Kesigapan panitia dalam membantu peserta dan ketertiban acara patut diacungi jempol.  Konsep gamifikasi yang ditawarkan oleh panitia mampu menarik atensi pengunjung dan membuat suasana menjadi lebih hidup. 

 

Para pengunjung memainkan game di booth tim Tesseract

 

Di hari berikutnya, Minggu (4/10), tim Tesseract mempresentasikan game Nusantara Culinary Tycoon di hadapan juri. Terdapat 4 panelis yang dihadirkan dalam sesi ini, yaitu :

 

1. Mega Denditya (ChocoArt)

2. Krisna Tedjo (Gameloft)

3. Aditia Dwiperdana (Agate Studio)

4. Johannes Reuben dan Rex Choo (Keduanya dari Unity Singapore)

 

Setiap tim harus mempresentasikan karya mereka dalam waktu 10 menit dengan menggunakan bahasa Inggris. Para juri terlihat cukup antusias menyimak pemaparan tim Tesseract. Ada fakta menarik dibalik pembuatan game Nusantara Culinary Tycoon. Pada dasarnya, Nusantara Culinary Tycoon merupakan varian dari game "Multishop Tycoon ". Game tersebut telah menyabet nominasi "Game of The Year" dari polling yang diselenggarakan oleh Armor Games, sebuah publisher game website kenamaan dari AS. Game tersebut telah dimainkan jutaan kali oleh pemain dari seluruh dunia dan didistribusikan dalam platform Web dan Android. Mengambil konsep serupa, Nusantara Culinary Tycoon dikembangkan dengan mengangkat konten lokal pada publik lokal maupun internasional. Pemaparan tim Tesseract banyak mendapatkan apresiasi positif dari para juri.

 

Sesi Penjurian

 

 

Jawara dari Timur

Setelah menunggu beberapa lama, tibalah saat pengumuman pemenang kompetisi di Awarding Session. Secara mengejutkan, tim Tesseract berhasil meraih dua penghargaan sekaligus dalam ajang Indie Game Ignite 2015.

 

 

 
   

Sebagai pemenang kompetisi, Tim Tesseract mendapatkan hadiah

Uang tunai sebesar  Rp 8,000,000,00 (Game of The Year)

Uang tunai sebesar Rp 500,000 (Famous Bards of Indonesian Culture)

Tiga (3) paket lisensi Unity Pro (masing-masing senilai US$1500)

 

Sebuah prestasi yang luar biasa dan membanggakan ! Doa dan persiapan yang matang menjadi kunci kemenangan tim Tesseract kali ini. Dukungan menyeluruh dari teman-teman juga menjadi energi tersendiri untuk melangkah maju menghadapi tantangan di depan.

 

Semoga kemenangan ini dapat menjadi inspirasi bagi teman - teman yang lain dan meningkatkan kinerja tim kami agar lebih baik lagi kedepannya. Karena pada dasarnya, tujuan kami mengikuti kompetisi bukanlah semata-mata bermotif hadiah. Bukan pula ambisi untuk menunjukkan kebanggaan dan kekuatan. Namun kompetisi adalah momen bagi tim untuk tumbuh dan berkembang, dengan keberanian menghadapi tantangan yang ada didepan. Salam sukses !

 

 

 

Similar Article