Kemarin tepat hari Sabtu 13 Mei 2017 kami, Maulidan Games (MG), mendapat kesempatan menjadi pembicara di  seminar nasional Universitas Negeri Surabaya (UNESA) dengan tema Get Closer With Game. Kami juga berkesempatan membangun relasi dengan perwakilan studio game Gameloft, Yovita Susanti dan Hari Prasetyo, yang juga menjadi pengisi di acara ini.

Sebagai pembicara pertama Gameloft membawakan materi Game Market Challenge in 2017.  Sedangkan kami membawakan materi cukup baru yang sebelumnya belum pernah dibawakan, Rapid Game Development for Indie Game Studio: Why and How?

 

 

Pasar Baru, Tantangan Baru, dan Solusi Baru

Tahun ini merupakan tahun MG melakukan ekspansi ke Steam setelah sebelumnya berkutat di industri game Flash. Game pertama yang MG rilis untuk pasar game PC terbesar di dunia ini adalah Multishop Tycoon Deluxe, port dari versi Flash dengan banyak tambahan fitur eksklusif untuk Steam.

Menilik begitu kompetitifnya Steam dengan pertumbuhan jumlah game tiap tahun naik secara eksponensial, MG mau tidak mau perlu meningkatkan kualitas di berbagai lini. Dan satu nilai yang sampai saat ini MG tetap pegang teguh yakni bahwa dengan waktu pengembangan yang cepat, kualitas game yang bagus tetap bisa dicapai.

Salah satu jalan yang MG lakukan untuk memperoleh kecepatan dalam berproses  adalah konsep Rapid Game Development (RGD). Konsep ini bisa dibilang adalah salah teknik yang baru MG aplikasikan setelah berpindah ke Steam, terinspirasi dengan konsep Rapid Application Development (RAD) dari keilmuan manajemen proyek.

Lalu bagaimana implementasinya?

 

 

MG selama ini selalu menggaungkan automasi dalam berbagai seminar yang lalu. Prinsip ini menjadi salah satu kunci dalam RGD. Dalam acara di UNESA kemarin, MG menampilkan bagaimana prinsip ini diimplementasikan dalam sebuah pembangkit baris program otomatis, Diamond Engine. Perangkat ini menjadi salah satu senjata rahasia bagaimana MG bisa membangun sebuah game lebih cepat, sejalan dengan konsep RGD yang dianut.

Penggunaan perangkat-perangkat pembantu dalam proses pengembangan internal sudah menjadi hal yang lumrah di industri game. Sudah banyak studio-studio game besar, sebut saja Konami dengan Fox Engine dan Square Enix dengan Luminous Engine. Langkah yang sama pun juga di ambil MG dengan Diamond Engine, perangkat lunak khusus untuk memenuhi kebutuhan di lingkup internal.

 

 

Manajemen Proyek yang Jelas, Kunci Keberhasilan Pengembangan Game

Game yang rilis lebih baik daripada game yang sempurna, sebuah istilah yang mungkin memang tepat sekali digunakan apabila studio kamu adalah indie. Ketika berbicara bisnis B2C, sebuah studio dituntut untuk merilis sebuah game atau sama sekali tidak mendapatkan penghasilan. Tidak ada pemasukan berarti pekerjaan resiko ditinggalkan anggota tim. Kehilangan anggota berarti tutupnya sebuah studio.

Maka untuk memastikan sebuah game itu rilis, diperlukan peran manajer yang mengatur manajemen proyek yang baik. MG mengamati bahwa ada dua poin penting yang harus dihindari oleh seorang menajer dalam sebuah studio game indie. Dari sisi manajemen ada faktor Extinct by Instinct, pengambilan keputusan manajerial hanya berdasarkan faktor kecepatan dan feeling. Serta faktor Analysis Paralysis, di mana biasanya terjadi ketika berlarut-larutnya menentukan arahan game yang ingin dibuat.

Memastikan bahwa sebuah game dapat rilis dan dijual menjadikan peran manajer sangat krusial. Diperlukan seseorang yang tegas dan bisa menentukan arahan sebuah studio indie. Manajer ini tidak hanya harus jeli menentukan lingkup desain game yang akan dibuat, tetapi juga secara terjadwal menetapkan tugas-tugas yang harus diselesaikan oleh setiap anggota tim tepat waktu.

Ketidakhadiran peran manajer akan meningkatkan risiko gagal sebuah game. Minimal ada satu orang yang bisa merangkap tugas manajer apabila tim indie kamu terdiri dari beberapa orang. Ataupun kalau kamu developer solo, maka pahami dan alokasikan waktu pengembangan game sesuai dengan keadaan. ConcernedApe sang developer tunggal Stardew Valley misalnya, ia mengalokasikan waktunya rutin beberapa jam sehari untuk menyelesaikan game sambil tetap bekerja di siangnya. Ini membuktikan bahwa jadwal yang terukur adalah kunci keberhasilan jalannya sebuah proyek pengembangan game.

 

 

Sebenarnya masih banyak konsep-konsep yang diterapkan MG ketika mengembangkan sebuah game dalam skala indie. Apabila tertarik, kamu bisa langsung membaca presentasi MG di UNESA melalui tautan di sini. MG menjelaskan beberapa kata kunci yang mungkin bisa terapkan pula di studio kamu. Seperti CPM-PERT dan Bus Factor.

MG memiliki pendirian kuat dan idealisme dalam mengimplementasikan teori-teori yang telah ada di dunia akademis. Ini adalah kunci bagaimana MG bisa bertahan hingga selama ini namun tetap dengan gaya studio independen. RAD, automasi, dan banyak konsep-konsep lainnya bisa dipelajari dari buku-buku pengetahuan yang tersedia. MG percaya bahwa sebuah game yang pembuatannya berada di atas landasan-landasan teori yang kuat serta terilis dengan baik, adalah game yang berhasil.

Similar Article