Bertempat di gedung Jatim Information Technology Creative milik Dinas Perindustrian dan Perdagangan, Maulidan Games berkesempatan mengisi sebuah acara komunitas bersama dengan Meeber POS, startup bidang teknologi bisnis makanan. Kami sendiri membicarakan banyak hal seputar sisi marketing dari sebuah game.

 

 

Ketika berbicara mengenai marketing game di era sekarang, maka teman-teman harus terlebih dahulu tahu akan dua istilah ini, Game-as-a-Product (GaaP) dan Game-as-a-Services (GaaS). Keduanya diperkenalkan oleh Nicholas Lovell dalam bukunya How to Publish a Game. Lalu apakah perbedaan di antara keduanya dalam hal marketing?

GaaP merupakan jenis game yang mengambil keuntungan dari sistem jual putus. Contohnya seperti saat kamu membeli game PS4 dalam bentuk DVD. Dengan melakukan pembayaran sekali saja, pembeli dapat menikmati keseluruhan konten dalam dvd tersebut. Sedangkan Gaas mengambil keuntungan melalui model berkelanjutan, seperti biaya berlangganan, cloud gaming, dan transaksi mikro. Biasanya GaaS dihargai gratis, seperti kebanyakan game di Play Store dan App Store.

 

 

Mengukur kesuksesan sebuah marketing dari GaaP dan GaaS cukup berbeda. Marketer dapat dibilang berhasil memasarkan GaaP dengan patokan jumlah game yang berhasil terjual. Sedangkan GaaS, faktor banyaknya pemain serta average revenue tiap user menjadi patokan kesuksesan marketing. Kalau kamu mendapati iklan game di media-media sosial, umumnya mereka adalah GaaS yang sedang berusaha mencari user baru.

Di era game indie seperti sekarang ini, GaaP merupakan model yang lebih disukai apabila developer tidak memiliki banyak budget marketing. Selain lebih memfokuskan biaya ke produksi, studio indie juga lebih suka menyerahkan proses marketing pada publisher yang lebih berpengalaman. Tertarik mengembangkan produknya bersama kami? Silahkan email kami melalui contact@maulidangames.com .

 

Similar Article